Bahaya Microsleep saat Berkendara, dan Cara Menghindarinya
Microsleep salah satu ancaman keselamatan saat berkendara yang bisa berujung pada kecelakaan fatal, seperti diduga terjadi pada insiden di Tol Jagorawi yang menimpa artis Diva Mara.
Insiden kecelakaan yang dialami artis Diva Mara di Tol Jagorawi pada Sabtu (7/2/2026) kembali menyuarakan isu serius soal microsleep saat berkendara. Dalam insiden tersebut, mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan tunggal dan terguling di tengah jalan tol, meski kondisi pengemudi selamat dari kecelakaan dan harus jalani pemeriksaan medis. Menurut sejumlah analisis awal, kecelakaan diduga terjadi karena microsleep atau kantuk tiba-tiba yang menyebabkan pengemudi kehilangan kendali atas kendaraan.
Microsleep sendiri adalah periode tidur singkat yang berlangsung hanya dalam hitungan detik â seringkali antara 1 hingga 30 detik â meski tubuh tampak masih terjaga. Selama fase ini, otak sesungguhnya masuk ke dalam kondisi tidur ringan tanpa disadari, sehingga kemampuan mengamati lingkungan dan bereaksi terhadap situasi jalan langsung menurun drastis.
Bahaya microsleep saat berkendara sangat nyata. Saat terjadi kantuk singkat selama pengemudi sedang berkendara, kendaraan bisa terus melaju tanpa kontrol penuh lebih dari 100 meter dalam hitungan detik jika sedang melaju di kecepatan tinggi. Jika tidak segera dihentikan, hilangnya kesadaran itu dapat menyebabkan tabrakan dengan kendaraan lain, pembatas jalan, atau objek di sekitarnya.
Pakar kesehatan dan keselamatan berkendara menegaskan bahwa microsleep adalah salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas fatal. Serangkaian penelitian bahkan menunjukkan bahwa puluhan ribu kecelakaan di seluruh dunia terkait dengan kondisi kantuk saat mengemudi, termasuk mereka yang tidak menyadari telah tertidur meski hanya beberapa detik.
Tanda munculnya microsleep sering kali tidak disadari oleh pengemudi sendiri. Beberapa indikasi awal termasuk pandangan kosong singkat, susah mempertahankan kepala tetap tegak, variasi kecepatan tanpa disadari, serta merasa tidak ingat beberapa kilometer terakhir perjalanan. Jika hal-hal ini muncul saat berkendara, risiko kehilangan kendali atas kendaraan meningkat tajam.
Untuk mengurangi risiko microsleep dan kecelakaan akibat kantuk, ada sejumlah langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
- Tidur cukup sebelum berkendara. Prioritaskan tidur berkualitas selama setidaknya 7â9 jam per malam agar tubuh dan otak benar-benar segar saat mengemudi.
- Ambil istirahat secara teratur. Jika perjalanan panjang, berhentilah setiap 1-2 jam untuk meregangkan tubuh, berjalan kaki sebentar, atau sekadar tidur singkat guna meningkatkan kewaspadaan.
- Berbagi tugas mengemudi. Jika memungkinkan, bergantian mengemudi dengan teman atau keluarga dapat membantu mencegah kantuk tiba-tiba.
- Hindari jadwal bepergian di jam rawan kantuk. Perjalanan pada larut malam, dini hari, atau selepas makan berat kerap meningkatkan rasa kantuk secara fisiologis.
- Perhatikan tanda-tanda lelah. Jika sering menguap, berat mata, atau sulit mempertahankan fokus, sebaiknya berhenti mengemudi dan beristirahat.
Selain itu, menjaga pola tidur yang konsisten dan sehat di luar aktivitas mengemudi juga berperan penting mencegah microsleep secara umum. Mengonsumsi kafein atau membuka jendela mobil hanya memberikan efek sementara, sedangkan tidur yang cukup adalah langkah paling efektif dalam memastikan tubuh siap menghadapi perjalanan panjang.
Kasus di Tol Jagorawi ini menjadi peringatan bahwa microsleep bukan sekadar fenomena ringan, tetapi potensi ancaman keselamatan yang serius. Kesadaran akan risiko ini dan tindakan preventif yang disiplin dapat menyelamatkan nyawa â bukan hanya pengemudi, tetapi seluruh pengguna jalan.





